Friday, March 20, 2015

Penantian




   Hai? Apakabar? Udah lama banget ya kita gak ketemu. Setengah dekadelah kurang lebih, tanpa kamu. Lain, memang, hahaha.
   Aku masih ingat kamu. Bahkan saat pertama kita bertemu. Kamu memang tengil, rese, ngeselin, jail, tapi yang pasti, ngangenin. Gak mungkin kalau aku gak kangen kamu,  bukan gombal, tapi memang itulah yang aku rasakan.
    Aku ingin menyapamu. Meski hanya bilang 'Hai?' atau 'Apakabar?' diruang obrolan. Tapi mengapa jari-jari ini, tangan ini sungkan untuk mengetik pertanyaan yang lebih mirip pernyataan itu? GENGSI bila harus memulai terlebih dahulu. Setengah dekade bukan waktu yang sebentar. Apa aku harus menunggu sampai satu dekade lagi dan seterusnya? Ah jangan ditanya. Tanpamu itu aneh. Ada yang hilang. Kosong. Bagai hidup tanpa jiwa. Aku hampir menyerah, jujur saja.
     Untuk menyapamu, meski hanya diruang obrolan itu begitu sulit. Aku menyukaimu dari dulu, meski aku tau aku pernah hampir lupa karena suatu kesalahan yang kuperbuat. Dan akhirnya? Kamu yang terbaik hingga saat ini.
     I don't let go. I keep stay here. And my heart still same like a first time. I always remember you, I don't care if you forgetting me or remember me, I don't if you hate me. I know, I'm so, so understand you're feeling.
     Jika bukan karena sayang, aku tak mungkin menunggu selama ini. Jika bukan karena kamu, aku tak mungkin mengingatmu hingga saat ini. Kamu itu selalu ada, disini, dihati ini.
     Kenangan itu masih selalu kukenang selama ini. Kamu memang gak sempurna. Kamu bukan mereka mereka yang perfect. Tapi ketidaksempurnaan itu sempurna dimataku.
     Jangan tanya alasan mengapa aku pergi, karena kamu sudah lebih dulu melakukan itu. Jangan tanya mengapa aku menghilang, karena kamu tak pernah kembali. Tapi aku tidak benar-benar pergi. Aku yakin kamu ada, namun tidak sekarang.
      Aku juga sadar aku bukan orang yang sempurna. Aku tak pernah protes kamu dekat dengan yang lain, tapi tolong, jangan lupakan aku,  setidaknya jangan lupakan kenangan kita.
      Aku benci menunggu, namun aku tidak keberatan jika orang itu adalah kamu. "Masa-masa itu gak mungkin terlupakan begitu saja."
      Mungkin aku harus memulai lagi sedikit,  walau hanya sekedar menyapa saja. Kamu ada, kamu gak ada, aku akan tetap begini. Masih dengan rasa yang sama, seperti sejak pertama kali.

2 comments:

cursor by onehundred-vicless-nights

Please Translate Here