Saturday, September 1, 2018

Pada malam yang larut

        Lewat tengah malam, inspirasi datang, dan kuakui sebagian besar adalah tentang kamu. Lalu kuminum segelas kopi sambil menuliskan cerita kita. Ya, bagiku tak ada bosannya bercerita mengenai kamu, dan bagiku, waktu bersamamu adalah berharga. Sungguh tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
       Belakangan aku sulit untuk tertidur, ntahlah, ntah kamu mengingatku juga atau tidak. Menebak isi hati orang tidaklah mudah, apalagi dari kejauhan. Sulit, apalagi yang kuketahui kamu cukup misterius. Dan hal itu tentu sangat mempesonaku.  
       Aku tentu berharap semoga kau juga merasakan apa yang kurasakan. Ya, mungkin aku memang tidak seperti cewek-cewek lain yang kalem, kamu pasti ketawa karena ya, aku rame, aku berantakan begini, aku gak bisa jadi orang lain, semoga kamu bisa ngerti, kalau memang aku berbeda dari mereka. 
      Lewat tengah malam, kadang imajinasiku menjadi liar, ya imajinasi yang gila, khayalan gila tentang dirimu bermunculan. Senyuman itu, tatapan itu, sapaanmu, obrolan singkat kita, tak pernah ada yang terlupakan di memoriku. Kamu terlalu indah untuk dilupakan. Semoga kau merasakan hal yang sama.         
       Mungkin aku berlebihan, seperti terlalu banyak berharap, namun tak apalah, aku kadang bingung mesti bagaimana, mungkin Tuhan dan Malaikat tau jawabannya. Ya, mungkin saja. Menjadi sekedar seorang teman atau sahabat untukmu, bagiku tidak masalah. Sampai kapanpun, kamu tetap istimewa untukku.          
       Malam sudah sangat larut, aku didepan laptop sedang menuliskan ini. Sambil meminum segelas kopi, khayalan gilaku berkembang. Andai kau ada disini, andai kau bukan hanya sekedar seorang teman, ya, biarkan menjadi khayalan atau kenyataan, Tuhan dan Malaikat tau.        
        Bulan ini sudah mulai musim hujan, bulan ini jujur saja sebenarnya bukan bulan yang kusukai, orang yang mengkhianatiku, akan ulang tahun sebentar lagi, tapi aku bersyukur, karena ternyata dia seburuk itu, dia tak pantas untukku. Bukannya aku sok sempurna, tapi aku paling tak suka dikhianati. Tapi biarlah itu menjadi masa lalu. Semoga kau tidak seperti itu. Aku merasa nyaman, aman denganmu, semoga kau tidak seburuk itu. Walaupun aku juga gak tau sebenarnya kita itu seperti apa.          Aku percaya kamu, semoga saja kau tidak mengecewakanku.         
       Aku tidak seberani itu. Andai saja aku berani, aku ingin bisa memelukmu, berkata "Aku sayang kamu, cinta kamu.". Tapi ternyata memang tak semudah itu, bahkan untuk berbasa basipun aku canggung sekali. Ya, aku akan tetap ra, semoga kau juga merasakan hal yang sama. Meski aku tau, Tuhan lah yang akhirnya akan menentukan seperti apa kedepannya. Selamat malam menjelang pagi, karena kamu mengantarku untuk menulis tulisan konyol ini. Semoga kamu baik-baik saja :)

No comments:

Post a Comment

cursor by onehundred-vicless-nights

Please Translate Here