Sunday, March 16, 2014

Sesuatu yang hilang


Karya: Cindy Yusniarti Yandini
      Seperti air yang terus digunakan namun tak pernah habis, sebesar itulah aku mencintaimu. Hidup tak pernah seindah yang kubayangkan, jika kau tak ada. Namun entah apa yang mempertemukan dan memisahkan kita.
   Kulihat matahari masih bersinar hingga hari ini. Bulan dan bintang masih ada pada malam hari. Dan juga awan yang terus nengikuti dimana kita berada.
    Juga Dian yang masih disini, disekolah ini. Sudah sejak MOS SMA lalu ia menyukai Vinno, kakak kelasnya itu. Tak disangka ternyata kakak kelasnya itu juga kakak kelasnya sewaktu SMP dulu entah ini jodoh atau apa...
    Dian menyimpan rasa itu. Rasa sukanya yang mulai menjadi cinta, rasa sayangnya yang begitu besar. Hingga pada akhirnya. Seseorang membongkar rahasia terbesarnya. Ternyata Deon yang membongkarnya.
    Setiap hari, Dian selalu memperhatikan Vinno. Kemanapun Vinno pergi, Dian selalu mengikuti. Dian percaya ini takdir. Gara-gara itu juga Dian dipanggil keruang BK.
"Dian." suara Bu Aini memanggilnya.
"Iya ada apa, Bu?"
"Ada yang harus kamu selesaikan disini. Bersama Vinno."
"Ada apa?"
"Biar kamu dan Vinno yang menyesakkannya."
"Saya kan sudah kasih suratnya, saya sudah minta maaf."
"Iya, tapi lebih enak jika dibicarakan langsung, Dian."
"Yaudahlah, Bu, mending dimulai aja."kata Vinno
"Hmm yasudah."
     Dian ingin bicara, tapi apa daya ada pacarnya Nia dan temannya Nia, Lulu ada disitu juga. Mana berani Dian ngomong kalau ada mereka, bisa lebih berabe urusannya. Kemarin aja Dian dilabrak biar ngejauhin Vinno. Tapi apa daya, ingin melupakan tapi hati tak sanggup.
    Bu Aini pun mengerti apa yang Dian rasakan. Bu Aini mempersilahkan Nia dan Lulu untuk keluar agar Vinno dan dian bisa lebih mudah menyelesaikan masalah mereka.
     Jantung Dian tak karuan. Nia tau ia harus ngomong apa, tapi bingung bagaimana nenyampaikannya.
    30 menitpun berlalu...
"Yaudah, Bu, saya izin sholat zuhur dulu ya. Nanti saya kesini lagi."ujar Vinno.
"Iya jangan lupa balik ya."
      Tak beberapa lama kemudian Dian juga meminta izin untuk minum karena haus. Tadi ia sudah shalat.
     Dan Bu Dian meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.
"Yasudah kalian bicarakan saha sekarang. Hari ini saja, jangan ditunda-tunda."
"Kak, Dian minta maaf ya sama kakak kalau selama ini banyak salah sama kakak."
"Iya kakak maafin. Tapi tolong jangan ganggu kakak lagi, kakak udah punya Nia. Kamu ngerti dong."
"Iya kak."
"Bagaimana Dian, Vinno, apakah ada yang ingin dibicarakan lagi."
"Tidak, Bu."
     Begitulah Dian. Lain sekali jika ia berhadapan langsung dengan orang yang ia sukai, terasa berbeda dari Dian yang aslinya heboh dan bawel. Tapi didepan Vinno, Dian seakan tak berkata, mulutnya terkunci dalam kebisuan. Sesungguhnya tak ada niat untuk mengecewakan Vinno, tetapi ia hanya ingin lebih mengenal, lebih dekat meskipun cuma teman, Dian ingin bisa ngobrol banyak, sharing banyak hal. Tapi rasanya mustahil. Mungkin sudah saatnya Dian untuk nenjauh dan melupakan. Juga mencari orang lain yang selalu ada untuknya. Yang menerimanya apa adanya dan tentu masih sendiri.
     Hari-haripun berjalan. Dian masih menyimpan rasa itu. Andaikan saja kau benar jodohku, kak, batinnya. Tapi entah apa yang menarik dari sosok Vinno. Terlalu biasa malah. Tapi dia beda, itu yang membuat Dian terpikat. Dian yakin, ini takdir Tuhan.
      Tak terasa, bulan pun berlalu. Hari ini adalah hari terakhir ditahun 2013. Dian hanya sendiri dirumah. Memikirkan Vinno, makan-makan dengan keluarganya dirumah. Kebetulan ayahnya pulang membawakan sekeranjang parcel, hadiah dari kawannya.
      Dan ini saatnya Dian harus menyadari, bahwa Vinno hanya sementara.Tak lama lagi ia akan lulus sedangkan Dian masih disini tanpanya.
     Tak disangka. Ada kabar baik yang diterima Dian. Vinno dan Nia putus. Entah mengapa, tapi lega juga rasanya. Karena, meskipun tak memiliki, senang melihatnya sendiri.
     Vinno begitu nembenci Dian. Ia sering mengabaikan Dian. Didunia maya, Vinno juga sering menyindir Dian. Dian tau, itu untukmu. Ya, hanya kalimat-kalimat menyakitkan. Setidaknya, Dian nggak pernah menyentuh Vinno terlebih dahulu, nggak pernah nyipok Vinno ataupun gimana-gimana. Masa iya sekedar ngeliat dari jauh aja nggak boleh, sih? Itu kan gak salah. Dian tak pernah sesabar ini menghadapi seseorang, biasanya ia akan marah bila ada yang berbuat seperti itu kepadanya.
"Vinno aja yang salah nggak minta maaf, kayaknya gue yang cuma masalah sepele aja dia segitunya banget. Tapi katanya kan benci itu bisa jadi cinta. Lagian, kalau emang dia sering nulis tweet yang nyindir gue itu berarti dia mikirin dan peduli, kan?"pikir Dian.
      Berharap tahun 2014 ini lebih baik dari tahun kemarin. Dian juga gamau jadi anak bandel lagi kayak pas SMP dulu. Maklum, Dian kurang perhatian. Ia hanta tinggal bersama nenek dan abangnya. Orang tuanta telah lama berpisah, bahkan kurang peduli terhadap apa yang ua rasa. Percuma cerita atau curhat kepada orangtuanya, toh, pasti tanggapannya tak akan bagus. Udah bisa dibayangkanlah. Dian memilih untuk menyimpannya, tak ingin cerita ke siapapun.
      Awal Februari. Januari kamarin Dian udah seneng banget udah bisa jadi OSIS, ya walaupun cuma bagian kewirausahaan ya gapapa, sesuai sama jurusan yang ia ambil, IPS.
     Hari ini diadakan Raker yaitu Rapat kerja untuk OSIS dan MPK.
    Gara-gara tidur kemaleman, Dian pun telat. Segera ia buru-buru bersiap.
     Cukup melelahkan, apalagi pagi hingga malam baru selesai.
     Saat itu juga, semua kakak pengurus OSIS bermaafan dengan murid kelas sepuluh dan sebelas. Dan Dian pikir, ini saat yang tepat untuk meminta maaf lagi, mungkin ada kesalahan yang ia tak sadar.
      Ronal pun mengantarkan Dian untuk meminta maaf kepada Vinno. Ronal adalah teman baik Vinno, sekaligus teman sekelasnya.
    "Vin, ini Dian mau minta maaf sama lo."
"Oh yaudah."
Vinno pun mengulurkan tanggannya kearah Dian, dian pun membalasnya. Sambil berkata "Kak, Dian minta maaf kalau selama ini salah, suka ganggu. Maafin ya, kak. "
"Iya. Kakak maafin. Tolong jangan ganggu kakak dulu, kakak mau fokus UN, Dian."
     Dan kejadian romantis itupun berlalu. Tak disangka tak biasanya Vinno begitu baik, menyambutnya seperti itu dan nada bicaranya lembut.
     Tapi, sesungguhnya kebencian masih ada dihati Vinno. Entah dia sangat kesal sama Dian. Ya, Diandra Setya Utari, yang baginya tak mungkin menggantikan Nia yang begitu lembut, feminin, anggun. Sedangkan Dian saja Vinno sudah tau dia sering bikin onar dulu. Dian begitu bandel dan urakan. Lain dengan Nia yang pendiam, Dian itu bawel banget. Tanpa Vinno sadar, Vinno sering memikirkan Dian. Sebetulnya ia baik. Cuma aneh gitu, gabisa diem, urakan. Malulah kalau Vinno jadian sama orang yang begitu. Nggak setara sama mantan-mantannya dulu.
      Disana, diluar sana. Dian sering memikirkan Vinno. Pernah menangis juga takut kehilangan orang yang ia sayang. Karena Dian ingin bisa memeluk Vinno untuk yang terakhir kalinya.
      Minggu pun mulai berganti. Kalender sudah mulai menipis. Bulan Maret sudah didepan mata. Dian libur dua bulan karena ada UAMBN yang akan dilakukan kelas dua belas. Itu berarti ia tak bertemu Vinno, hanya bisa mendo'akan, semoga ia dilancarkan dalam menjawab soal-soal Ujian itu.
     Libur yang begitu membosankan. Hanya dirumah. Nggak dikasih duit jajan. Diam aja. Makan, tidur, makan, tidur. Uhh bosan!
    Masih teringat sakit hati itu. Saat surat yang ia buat dibuang begitu saja, saat ia ada tugas dan Vinno dibutuhkan untuk bahan wawancara.
Tentu hatinya sakit, sakit sekali. Salah apa, dosa apa, sampai dicampakkan begini?
     Hari terakhir liburan. Sepuluh haripun berlalu. Sebetulnya malas. Tapi, sudahlah mungkin lumayanlah bisa lihat dia mungkin untuk yang terakhir kalinya. Dan benar, ia melihat Vinno, orang yang sangat ia rindukan. Begitupun esok, meski sebentar, ia mungkin takkan pernah melihat senyuman itu lagi.
   
Dan ia pun menulis.
       Aku pergi. Mungkin takkan kembali. Lupakan saja apa yang pernah ada diantara kita. Aku pergi, meninggalkanmu disini, dihati ini. Berharap terbiasa menjalani hari tanpa ada kamu. Tak mungkin seindah yang dulu. Sakit saat kau ada, namun hampa jika kau tak ada. Percayalah jika kita adalah takdir itu, kita pasti dipertemukan kembali entah kapan dan dimana. Percayalah jika kita tak saling memiliki, Tuhan akan memberikan yang terbaik. Aku disini, tanpamu. Sendiri. Aku pergi, mungkin takkan kembali. Jika kau datang, aku akan selalu menyambutnya. Selamat tinggal, baik-baik dengan apa yang kau jalani. Tak apa aku diabaikan, tetapi hati ini selalu tulus untukmu. Berharap kamu nggak pernah lupa sama aku.-Dian.
-Tamat-

Sebagian cerpen ini akan ditulis di Novel 'Note of Love' yang saya buat. Ini hanya gambaran saja :)

No comments:

Post a Comment

cursor by onehundred-vicless-nights

Please Translate Here