Wednesday, February 9, 2011

Puisi untuk Ibu


     Hari-hari kulewati seperti biasa. Tiba-tiba Adi, adikku menepuk pundakku.”Ada apa, dik?”tanyaku kepada Adi.”Ya, kakak !Sadar nggak sih, nih hari sudah pagi?”kata adikku.”Oh, iya!Kakak mandi dulu, ya!Maaf soalnya tadi kakak melamun.”, kataku malu-malu.”Ngelamunin siapa kak?Ngelamunin pacar, ya?”Goda adikku.”Ih, kamu ini!Siapa yang punya pacar?Kakak nggak punya pacar, dek!Ya, sudah!Nanti Ibu dengar, lho!”Ya, memangnya kenapa kalo kakak pacaran?Kakak kan sudah besar, sudah berumur 15 tahun.”, jadi wajarlah!adikku kembali menggodaku.
      Setelah selesai mandi, aku berangkat Sekolah bareng adikku.Aku sekolah di SMA Kasih Ibu.Kalau adikku juga sekolah disini, tapi ia masih SMP kelas VIII.
      Akhirnya aku sampai juga disekolahku.Aku langsung masuk ke kelasku, Kelas XI-9.Kakak kelas masuk ke kelasku.Pasti mereka ingin mengumumkan sesuatu, pikirku.
       "Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.", salam kakak itu."Adik-adik, dalam memperingati hari Ibu, ada lomba membuat puisi dan cerpen bertemakan Ibu.Bagi yang berminat, tunjuk tangan!"
Akupun menunjuk tangan."Siapa namanya?"tanya kakak itu.Akupun menjawab, “Tantri, kak!"Ikut apa?"Puisi saja, kak!"Kamu memang mirip Tantri, itu lho vokalisnya Band Kotak!"kata kakak itu."Siapa lagi yang berminat ikut lomba menulis cerpen dan puisi?"Saya, kak!"kata Marelia, anak orang kaya yang belagunya minta ampun.Memangnya Marelia bisa buat puisi apa?kataku dalam hati tak percaya."Ya, yang ikutan Cuma Tantri dan Marelia saja, kan?"tanya kakak itu."Ya, sudah kalau nggak ada lagi.Saya ucapkan Wassalam Walaikum Warahmatullahi Wabarah Kattu.Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Hah, ternyata aku baru inggat!Sebentar lagi, kan hari Ibu!Hari ini saja tanggal 10 Desember.Berarti, 12 hari lagi hari Ibu, dong!kataku dalam hati.Aku harus bisa membuat puisi ini sebagus mungkin, karena aku ingin sekali menjadi pemenangnya agar aku bisa membanggakan sekolah dan juga kedua orang tuaku.
     Aku  ingin bisa menang, karena aku memang jarang ikut lomba sebelum  lomaba puisi ini, kalau puisiku menang, berarti aku berhasil, kan?
                                 ***
        Bel berbunyi, tanda istirahat.Kebetulan perutku sudah lapar sekali, aku pun segera menuju ke kantin untuk makan.Aku memesan somay.Akhirnya kenyang juga, pikirku.
        Tak terasa, berjam-berjam di sekolah, sekrang sudah waktunya pulang, aku langsung pulang dengan naik angkot jurusan rumahku.Karena yang naik kebanyakan pelajar, jadi dimurahin dikitlah, aku juga tak lupa menjemput adikku, kok!Kan kakak yang baik harus selalu bertanggung jawab, pastinya.
       Setelah sampai di rumah, aku segera ke kamarku, untuk beristirahat sejenak melepas lelah pada siang hari ini.
        Hari sudah sore, matahari akan segera tenggelam sebentar lagi, terlihat dari jendela kamarku, langit oranye yang terlukis jelas di langit yang membentang laksana samudera, tapi berwarna oranye.
       Ayahku telah lama meninggal, jadi sekarang aku dan adikku diurus oleh adikku.Ibuku itu adalah wanita yang sangat sabar dan baik hati, aku ingin, bila aku dewasa nanti, aku menjadi seperti ibuku.Ibu mencari nafkah dengan menjahit baju-baju di rumah, upahnya memang tak seberapa, tapi aku senang karena ibuku pantang menyerah dalam kesulitan, ibu juga seorang wanita yang kuat.
     Walau ayah sudah tidak ada lagi, tapi ibu tetap setia kepada ayah, ibu sudah berjanji kepadaku bahwa ia tak akan menikah lagi dengan pria manapun.
      Aku mulai menulis sebuah puisi, sebuah puisi yang kupersembahkan kepada ibuku tercinta, kepada malaikat yang telah mengurusku sejak kecil.
      Nah, ini dia puisinya, coba dibaca, kau pasti akan tersentuh pada setiap kata-kata yang kutulis.Kan kupersembahkan puisi ini untuk ibuku tercinta, ibuku tersayang.


                                                       Ibu

                                                         
Begitu mulianya hatimu
Begitu sakitnya kau melahirkanku
Begitu banyak tetes darah yang kau keluarkan untuk melahirkanku
Begitu tulusnya dirimu membesarkanku
Ibu….
Aku mencintaimu lebih dari segalanya
Tak perlu ku bayar dengan emas dan perak
Kasihmu begitu berharga…Ibu
Di kala sedih
Kau menghiburku
Di kala sakit
Kau merawatku
Kau bagaikan malaikat yang melindungiku
Kau selalu memberikan cinta dan kasih sayang kepadaku
Kau bagaikan bulan yang menerangi jalanku
Kutahu surgaku ada di telapak kakimu… Ibu
Bila ku menangis
Kau usap air mataku
Bila ku berduka
Kau menghiburku dengan canda dan tawamu
Tak dapat kutukar dengan apapun
Kasihmu tak terhingga sepanjang masa…Ibu
Tak terhitung betapa besarnya cintamu padaku
Tak terhitung betapa besar kasihmu untuku
Ibu..
Kebaikanmu bagaikan mentari yang menyinari hatiku
Ketulusanmu bagaikan udara bersih yang menyejukkan hatiku
Kasihmu bagaikan bintang yang menerangi hatiku
Telah kusimpan hal-hal yang indah
Yang ada didalam hatiku ini
Takkan pernah kulupakan
Untuk selamanya
Ibu…
Telah terucap janji ini padamu
Aku takkan pernah melupakanmu
Sampai akhir hayat memanggilku
      Bagaimana, bagus gak?Semoga saja puisi ini layak untuk dimenangkan, ya!Amin ya robbal alamin.Aku membuat puisi itu dengan cinta dan hati untuk ibuku.Aku tak bisa berkata, karena kasih sayang ibu kepadaku sungguh begitu besar.Ibu bagaikan cahaya dan pelita yang menerangi setiap langkah demi lagkah yang kita tempuh.
      Besok aku akan mengumpulkan puisi ini kepada kakak kelas yang kemarin datang ke kelas aku itu, namanya kalau gak salah kak Vina, deh.
      Aku ingin selalu berbakti kepada Ibuku, ibu sudah susah melahirkan aku, dulu aku lahir sungsang, jadi ibu sempat merasa sakit setelah melahirkan aku, tapi aku mengerti, ibuku menyayangiku dan juga menyayangi adikku.
                                                           ***

   Hari-hari berlalu seiring berjalannya waktu, tak sabar rasanya ingin mendengar pengumuman puisi yang kubuat, aku hanya bisa berdo'a, berusaha, berharap dan meminta kepada Tuhan agar aku memengkan lomba puisi ini.
     Seminggu telah berlalu, inilah hari penentuan pemenang lomba puisi ibu itu.Hatiku sungguh deg-degan menantikan pengumuman tersebut.
     Ternyata pengumuman diadakan lewat mading, aku pun segera ke mading, banyak anak-anak yang bergerombolan disitu untuk mengetahui siapa pemenang lomba puisi tersebut.
   "Selamat, ya Tantri!"kata sahabatku Irene."Kenapa selamat, Ren?"tanyaku penasaran."Hmm...kamu jadi juara 1 lomba puisi ibu, selamat, ya, sob!"Irene memelukku."Hah?yang bener?"aku tidak percaya."Ya, benerlah, kado cinta buat ibu lo itu bagus juga, ya, kadonya ya puisi buatan lo!"Irene memuji."Ya, gw juga gak nyangka, friend!"aku tersenyum.
      Tak menyangka rasanya aku bisa memenangkan lomba puisi itu.Ini adalah kado terindah, puisi yang kubuat adalah kado buat ibu aku. 
     Cintailah ibumu karena ia telah melahirkan kamu selama sembilan bulan lamanya.Sayangilah ibumu seperti ibumu menyayangimu, ucapkanlah kata maaf kepadanya sebagai pertanda bakti kita pada ibu.Janganlah kau durhaka dengan orang tua, terutama ibumu.Buatlah mereka bahagia karena ibu telah membuat kita bahagia.Jangan pernah kau berlaku kasar kepada ibumu, dari saya: Cindy Yusniarti Yandini.

No comments:

Post a Comment

cursor by onehundred-vicless-nights

Please Translate Here